oleh

Ferdinand Hutahaean Ditahan Dalam Kasus Ujaran Kebencian Bernuansa SARA

JAKARTA – Ferdinand Hutahaean ditahan dan ditetapkan sebagai tersangka oleh Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri.

Pegiat sosial ini ditetapkan tersangka dalam kasus dugaan ujaran kebencian bernuansa SARA.

Penetapan tersangka terhadap Ferdinand Hutahaean dilakukan usai diperiksa oleh Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri sebagai saksi terlapor.

“Setelah dilakukan gelar perkara, penyidik telah mendapatkan dua alat bukti, sehingga menaikkan status saudara FH dari saksi menjadi tersangka,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Ahmad Ramadhan, Senin (10/01/2022).

Pemeriksaan Ferdinand sebagai saksi berlangsung sejak pukul 10.30 WIB pagi hingga sekitar 21.30 WIB malam.

Polisi langsung melakukan penahanan terhadap Ferdinand Hutahaean dengan alat bukti 2 keping DVD, 1 tangkapan layar screen shoot, dan telepon genggam.

“Penahanan di Rutan cabang Jakpus di Mabes Polri,” kata Ahmad Ramadhan.

Menurut Ahmad, Alasan Ferdinand Hutahaean ditahan karena dikhawatirkan melarikan diri, kemudian mengulangi perbuatan lagi, dan menghilangkan barang bukti.

“Jadi sekali lagi yang bersangkutan telah dilakukan penangkapan dan penahanan,” katanya.

Ferdinand Hutahaean Menolak ditahan

Namun demikian, menurut Ahmad Ramadhan Ferdinand Hutahaean sempat menolak ditahan polisi dengan status tersangka kasus ujaran kebencian.

“Setelah dinyatakan tersangka kemudian dilanjutkan pemeriksaan sebagai tersangka, yang bersangkutan menolak karena kesehatan,” ujarnya.

Dikatakan oleh Ahmad, Ferdinand sempat menolak menandatangani surat penetapan tersangka dan penahanan.

“Yang bersangkutan tadi sempat menolak, karena alasan kesehatan. Tetapi ketika surat perintah penahanan (diterbitkan),selanjutnya yang bersangkutan menandatangani,” ujar dia.

Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri tidak menggunakan pasal penistaan agama saat menetapkan Ferdinand Hutahaean sebagai tersangka.

“Sementara tadi tidak (menggunakan pasal penistaan agama),” ucap Ramadhan menegaskan.

Ahmad Ramadhan mengatakan, polisi menggunakan pasal ujaran kebencian bernuansa SARA dengan ancaman penjara hingga 10 tahun kepada Ferdinand.

Ramadhan merinci penyidik menggunakan Pasal 14 ayat (1) dan (2) KUHP dan Pasal 45 ayat (2) jo Pasal 28 ayat (2) Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronika (ITE).

Pasal yang disematkan kepada Ferdinand saat ini berkaitan dengan unggahan yang diduga bermuatan ujaran kebencian yang berpotensi menimbulkan keonaran.

Kronologi kasus Ferdinand

Kasus ini bermula dari cuitan Ferdinand melalui akun twitternya @FerdinandHaean3.

Pegiat sosial ini menulis twitt “Kasihan sekali Allahmu ternyata lemah harus dibela. Kalau aku sih Allahku luar biasa, maha segalanya, Dialah pembelaku selalu dan Allahku tak perlu dibela”.

Namun, cuitan itu kemudian telah dihapus di sosial media Twitternya.

Ferdinand Hutahaen kemudian mengklarifikasi bahwa cuitan itu tidak menyasar kelompok atau agama tertentu.

Ia berkilah, twitt itu berdasarkan dialog imajiner antara hati dan pikirannya saat kondisinya tengah lemah.

Twit Ferdinand Hutahaen tersebut kemudian dilaporkan oleh Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) pada Rabu (05/01/2022).

Bareskrim bergerak cepat memeriksa beberapa saksi hingga akhirnya dua hari kemudian kasusnya dinaikkan ke penyidikan.

Ferdinand kemudian meminta maaf kepada umat Muslim dan mengaku khilaf atas cuitan kontroversialnya ini.

Ferdinand mengungkapkan dirinya telah menjadi seorang Muslim sejak 2017.

Ia mengaku menulis twitt dalam kondisi yang sedang sakit. Ferdinand menyatakan telah membawa surat riwayat kesehatan itu saat diperiksa penyidik, Senin (10/01).

“Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada saudara-saudara saya muslim apabila tersinggung ataupun tersakiti dengan tulisan saya di Twitter, sekali lagi saya mohon maaf karena kekhilafan saya, mungkin karena pemahaman agama Islam saya yang baru seumur jagung,” kata Ferdinand, Jumat (7/1).

Sebelumnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan bahwa pernyataan Ferdinand menyakiti hati umat Islam.

Komentar

Berita Populer